Permen Davos (1931), Permen Zaman Belanda yang Masih Bertahan Sampai Sekarang

Jumat, 04 Mei 2012




 Permen Davos yang pedas semriwing.
Bagi yang suka makan permen, mungkin pernah mengenal permen Davos. Sebagian pembaca mungkin akan mengira saya sedang promosi permen, tetapi tidak apalah lagipula ini kan produk dalam negeri sendiri dan asli dari daerah saya. Jadi kalau pemilik pabrik permen ini membaca tulisan saya ini bolehlah kirim permen ke saya, akan diterima dengan senang hati.



Permen ini permen berbentuk lingkaran dan dikemas berbentuk tabung. Rasa permen ini adalah mint pedas. Semriwing….. kalau orang Purbalingga bilang. Waktu kita membuka permen Davos ini dari bungkus kertas warna biru itu, kemudian tampak lapisan kertas grenjeng. Lingkaran permen ini akan segera terlihat dan memancing untuk segera dimakan.

Permen ini ternyata sangat dikenal oleh banyak orang di jaman dulu. Merek permen ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1931. Saat ini permen Davos diproduksi oleh PT Slamet Langgeng Purbalingga. Pemasaran produk ini cukup besar dan  kini telah merajai pasar lokal di wilayah Jateng, DIY, sebagian Jatim, Jabar dan DKI Jakata. Bahkan, DIY merupakan pasar yang paling bagus. Produsen permen yang merupakan industri kelas menengah dilakukan di pabrik di di Jalan A Yani 67  Kelurahan Kandanggampang, Purbalingga, Jawa Tengah. Mungkin bagi orang Purbalingga ini sendiri boleh jadi tidak mengenal keberadaan pabrik ini, tetapi mesti jauh lebih mengenal permen ini.
 
 Proses pembuatan dan pengemasan permen.
Bungkus permen ini relatif khas warna biru tua dengan tulisan warna putih. Permennya sendiri berwarna putih. Selain bungkus yang khas, maka bentuk lingkaran putih dari permen ini juga khas dengan tulisan DAVOS terukir di tengah-tengahnya. Di tengah persaingan pasar permen yang sangat banyak sekarang ini, ternyata permen ini masih dapat bertahan untuk mempertahankan kekhasan ini. Kalau saat ini banyak dijumpai permen dengan berbagai macam bentuk, rasa, bahkan warna, maka permen Davos tetap setia dengan tampilan dan citarasa yang asal. Boleh saja kita sebut sebagai permen tampilan klasik kalau mau meniru orang pemasaran saat ini.

Seperti dikutip dari Banyumasnews.com, menurut Nicodemus Hardi, managing director PT Slamet Langgeng, permen ini dirintis oleh Siem Kie Djian pada 28  Desember 1931. Dalam perjalanan zaman, perusahaan dilanjutkan anaknya, Siem Tjong An. Enam tahun berikutnya, bisnis  diteruskan lagi ke anak dan menantu Tjong An: Toni Siswanto Hardi dan Corrie Simadibrata, yang juga generasi  kedua.Selanjutnya diturunkan ke Budi Handojo, sebagai generasi ketiga. Kini, sebagai generasi keempat penerus usaha itu  Nicodemus Hardi. Pada masa penjajahan Jepang, perusahaan sempat tersungkur dan baru bangkit lagi sesudah 1945. Perusahaan berganti  nama menjadi PT Slamet Langgeng & Co., yang memproduksi permen mint Davos, Kresna, Alpina, dan Davos Lux.

 Permen Davos siap dikemas.

Nama Slamet Langgeng diambil dari nama gunung terbesar di Jawa Tengah yang terletak di Purbalingga: Gunung Slamet.  Sedangkan Davos terinspirasi dari nama kota berhawa sejuk di Swiss yang dianggap cocok menggambarkan dinginnya permen mint  ini.

Dari sisi kemasan, maka kertas biru dengan tulisan putih itu tetap tidak berubah sejak dulu saya mengenal. Mungkin yang berbeda adalah bagian tulisan yang menyebutkan tanggal kedaluwarsanya saja.
 Bungkus permen Davos yang khas dengan warna birunya.

Permen Davos dibuat dari 98 persen gula pasir dan sisanya mentol serta zat pengikat. Tidak ada zat pewarna, pegawet  maupun pemanis untuk produk ini. Daya tahan permen ini bisa 1,5 tahun hingga 2 tahun. Permen dicetak dalam bentuk lingkaran seperti koin dengan diameter 2,2 cm.

Saat ini harga permen Davos di pasaran adalah Rp 1.000,00 per bungkus. Kalau mau beli saja per pak dalam plastik bening berisi 10 bungkus dengan harga Rp 7.500,00. Kalau mau murah lagi, ya sekalian beli yang kemasan besar lagi. Tapi nanti mabuk permen lho, kecuali mau untuk dibagi-bagi.
 
  Asyik makan permen nih...
Dengan makan permen ini bisa saja untuk dikunyah saat beraktivitas di kantor atau mengemudi. Lumayan buat menahan rasa kantuk dengan rasa pedasnya. Saya kalau sedang stress karena pekerjaan, maka kalau mengkonsumsi permen ini bukan dengan jalan mengulum seperti biasanya tetapi dengan jalan mengunyahnya untuk merasakan pedasnya yang khas. Yang mau bilang rakus, ya biarin. Makan permen ini banyak paling cuma kepedasan saja tidak ada efeknya pada perut.

Hayo siapa lagi yang pernah makan permen ini ?

0 komentar:

Poskan Komentar