Ilmuwan Ungkap 13 Tanda Jatuh Cinta

Minggu, 22 April 2012

Jakarta – Jatuh cinta adalah perasaan luar biasa yang sering sulit dipahami manusia. Namun, kebingungan itu mulai sirna, karena para ilmuwan sudah menentukan apa arti ‘jatuh cinta’.


Para peneliti menemukan, otak orang yang sedang jatuh cinta terlihat sangat berbeda dengan otak orang yang hanya menginginkan nafsu belaka. Tak hanya itu, otak pada orang yang dalam hubungan jangka panjang dan berkomitmen juga tampak berbeda. 

Studi yang dipimpin antropolog Helen Fisher dari Rutgers University dan merupakan salah satu ahli terkemuka di dasar biologis cinta ini mengungkapkan, otak ‘jatuh cinta’ merupakan fase masa unik dalam yang waktu jelas dan ada 13 tanda untuk itu.

Pertama, dia orang spesial. Saat sedang jatuh cinta, Anda mulai berpikir kekasih Anda adalah unik. Keyakinan ini ditambah dengan ketidakmampuan untuk merasakan gairah romantis pada orang lain.
Fisher dan rekannya yakin, pikiran tunggal ini merupakan hasil dari peningkatan kadar dopamin pusat (bahan kimia yang mengatur perhatian dan fokus) di otak Anda.

Kedua, dia sempurna. Orang yang benar-benar jatuh cinta cenderung fokus pada kualitas positif dari kekasihnya dan mengabaikan sifat-sifat negatifnya. Selain itu, orang jadi fokus pada hal sepele dan benda-benda yang mengingatkan mereka pada kekasihnya.
Perhatian yang difokuskan ini juga diduga merupakan akibat peningkatan kadar dopamin pusat serta lonjakan norepinefrin pusat (zat kimia terkait peningkatan memori yang muncul saat ada rangsangan baru).

Ketiga, saya kacau!. Seperti diketahui, jatuh cinta sering menyebabkan ketidakstabilan emosional dan fisiologis. Anda mengalami badai kegembiraan, euforia, meningkatnya energi, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, gemetar, hati berdebar dan napas yang makin cepat serta kecemasan, panik dan perasaan putus asa meski hanya dipicu hal kecil.
Perubahan suasana hati ini paralel dengan perilaku pecandu narkoba. Dan memang, saat jatuh cinta, jika orang diperlihatkan gambar orang yang dicintainya, ini akan mengaktifkan daerah otak yang sama yang aktif saat pecandu obat mengonsumsi narkoba.
Menurut para peneliti, jatuh cinta merupakan bentuk kecanduan.

Keempat, mengatasi tantangan mendekatkan kami. Melalui beberapa jenis kesulitan bersama orang lain cenderung meningkatkan daya tarik romantis. Dopamin pusat bertanggung jawab pada reaksi ini. Buktinya, hasil studi menunjukkan, saat ‘hadiah’ tertunda, syaraf penghasil dopamin di wilayah pusat otak menjadi lebih produktif.

Kelima, saya terobsesi dengannya. Orang yang sedang jatuh cinta rata-rata mengaku menghabiskan 85% waktu ‘bangunnya’ merenungi ‘obkek cinta’ mereka. Pemikiran mengganggu ini merupakan bentuk perilaku obsesif.
Perilaku ini muncul diduga akibat penurunan kadar serotonin pusat di otak, suatu kondisi yang dikaitkan perilaku obsesif sebelumnya.

Keenam, saya ingin terus bersama sepanjang waktu. Orang jatuh cinta secara teratur menunjukkan tanda-tanda ketergantungan emosional pada hubungan mereka, termasuk posesif, cemburu, takut ditolak, dan cemas saat berpisah.

Ketujuh, saya harap kita bersama selamanya. Mereka juga mendamba serikat emosional dengan kekasihnya, mencari cara untuk lebih dekat dan menghayal mengenai masa depan mereka.

Kedelapan, saya rela lakukan apa saja untuknya. Orang jatuh cinta umumnya merasakan empati yang kuat pada pasangannya, merasakan sakit orang lain sebagai miliknya dan bersedia mengorbankan apa saja untuk orang lain.

Kesembilan, apakah ia suka penampilan saya?. Jatuh cinta ditandai kecenderungan menyusun ulang prioritas harian atau mengubah penampilan, tingkah laku, kebiasaan atau nilai-nilai Anda untuk lebih menyelaraskan dengan kekasih.

Kesepuluh, bisakah kita menjadi eksklusif? Pasangan yang tenggelam dalam cinta biasanya mengalami gairah seksual pada pasangannya namun ada benang emosional kuat yang melekat, kerinduan melalukan seks yang dipadukan posesif, keinginan untuk seksual secara eksklusif dan kecemburuan ekstrim saat pasangan diduga berselingkuh.
Rasa posesif ini diduga berevolusi agar orang yang dicinta akan memaksa pasangannya untuk setia. Hal ini untuk menjamin pasangannya tak diganggu.

Kesebelas, ini bukan soal seks. Sementara keinginan berhubungan seksual penting untuk orang jatuh cinta, keinginan untuk memadukan emosional menjadi hal utama. Sebuah hasil studi menemukan, 64% orang jatuh cinta tak setuju dengan pernyataan, “Seks paling penting dalam bagian hubungan dengan pasangan.”

Keduabelas, saya merasa lepas kendali. Fisher dan rekan menemukan, orang yang mengaku ‘jatuh cinta’ sering mengaku gairahnya spontan dan tak terkendali.

Terakhir, rasa itu hilang. Sayangnya, jatuh cinta biasanya tak berlangsung selamanya. Ini adalah keadaan kekal yang baik berkembang menjadi hubungan jangka panjang, hubungan kodependen yang disebut psikolog sebagai ‘kasih’ atau itu akan hilang dan tenggelam.
Jika ada hambatan fisik atau sosial yang menghambat pasangan untuk melihat satu sama lain secara teratur, maka fase ‘cinta’ umumnya berlangsung lebih lama dari itu. [ast]

0 komentar:

Poskan Komentar