Wah Riset Aplikasi, RIM Kucurkan US$ 5 Juta untuk ITB

Minggu, 04 Maret 2012


Bandung -- Ini kabar baik bagi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Tugas akhir mahasiswa S-1 hingga S-3 ITB kini tak sebatas sebagai syarat kelulusan. Karya mereka, bila dalam bentuk aplikasi ponsel BlackBerry, bisa langsung dipakai oleh produsen BlackBerry, Research in Motion (RIM).
Perusahaan asal Kanada itu akan mengucurkan dana US$ 5 juta untuk kerja sama riset aplikasi BlackBerry dengan ITB selama 5 tahun.

Letter of intent RIM dan ITB baru ditandatangani pada Sabtu, 3 Maret 2012. Menurut Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan ITB, Suhono Harso Supangkat, surat nota kesepahaman baru akan diteken ITB dan RIM pada April mendatang. "Kami sedang merancang detail rencana kerja sama itu akan seperti apa," ujarnya kepada Tempo, Ahad, 4 Maret 2012.

Menurut Suhono, riset aplikasi untuk BlackBerry itu mencakup 6 tema, di antaranya untuk pendidikan, kesehatan, transportasi, dan pemerintahan. "Misalnya aplikasi untuk memantau kemacetan, juga cek kesehatan," katanya. Aplikasi itu pada tahap awal khusus dibuat untuk pengguna BlackBerry di Indonesia. ITB akan mencari sekitar 30-60 mahasiswa yang sanggup membuat aplikasi-aplikasi yang diinginkan RIM.

Mahasiswa-mahasiswa tersebut tidak dipekerjakan seperti di pabrik yang setiap hari harus menghasilkan sesuatu. "Ini kerja otak, jadi tidak seperti itu dan tidak mengganggu kuliah," katanya. RIM rencananya akan memberikan dana bertahap US$ 1 juta setiap tahun ke ITB untuk riset aplikasi yang dibutuhkan. Mahasiswa yang mengerjakannya akan mendapat beasiswa, karyanya sekaligus menjadi tugas akhir.

Dosen Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika ITB Yusef Rusmansyah berpendapat kerja sama ITB dan RIM itu bisa mendekatkan karya mahasiswa dengan dunia industri. Namun ITB perlu berhati-hati ketika melakukan negosiasi agar tidak terjebak dalam kerja sama yang merugikan, termasuk soal hak cipta.

Menurut dia, hak cipta aplikasi mahasiswa dan ITB untuk BlackBerry tidak boleh dilepas. Sedangkan kontrak jual-beli aplikasi itu bisa memakai beberapa model yang menguntungkan kedua belah pihak. Misalnya jual putus dengan harga aplikasi yang berlaku di dunia informasi dan teknologi, tapi si pembuat aplikasi tidak diikat bekerja hanya untuk satu perusahaan. "Supaya mereka bebas berkreasi membuat aplikasi lain untuk pembeli lain," kata dosen yang sudah membuat 20 lebih aplikasi untuk sebuah perusahaan telepon seluler itu.

Hasil uang dari pembuatan sebuah perangkat lunak untuk telepon genggam, ujar Yusef, sangat lumayan bagi mahasiswa. "Lebih dari Rp 20 juta, atau setara uang masuk ke ITB sekarang. Dan tiap tahun dia bisa bikin aplikasi yang baru," katanya.

Ia melihat ITB dan pemerintah Indonesia punya posisi tawar yang kuat, jika melihat pangsa pasar BlackBerry sekarang ini yang menurun di Amerika Serikat dan Eropa, kecuali di Indonesia. "Indonesia sepertinya menjadi benteng pertahanan terakhir mereka," kata Yusef.

 http://www.tempo.co

0 komentar:

Posting Komentar