Survei Buktikan 86,60 Persen Publik Tolak Kenaikan BBM

Minggu, 11 Maret 2012


Jakarta: Penolakan penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi merata di semua lapisan masyarakat. Begitulah yang ditunjukkan hasil survei terbaru Lingkar Survei Indonesia yang dirilis di Jakarta, Ahad (11/3).

Survei LSI yang menggunakan metode quick poll ini menunjukkan sebanyak 86,60 persen publik tak setuju harga BBM naik. Sementara 11,26 persen publik setuju, sedangkan sisanya atau 2,14 persen mengaku tidak tahu/tidak mau menjawab.

"Ini angka yang sangat besar, sebelumnya belum pernah angka seperti ini. Penolakan ini bukan hanya segmen tertentu, tapi merata di semua segmen," kata peneliti LSI Adjie Alfaraby.

Bahkan, berdasarkan kategorisasi pendapatan per bulan, lebih dari 80 persen responden tak setuju harga BBM naik.

"Publik yang memiliki pendapatan perbulannya antara Rp 200 ribu-Rp 2 juta menolak harga BBM naik. Publik yang memiliki pendapatan Rp2 juta bahkan lebih juga menolak penaikan ini. Jumlahnya sebanyak 85,83 persen," kata Adjie.

Selain itu, dari aspek demografi, sebanyak 89,2 persen warga desa menolak penaikan harga BBM. Sedangkan. masyarakat kota yang menolak 77,91 persen. Dari jenis kelamin sebanyak 86,63% laki-laki dan 86,56 persen perempuan menolak penaikan harga BBM.

Metode quick poll LSI sendiri merupakan metode yang baru dikembangkan. Dalam survei dengan metode ini, responden dibekali handset LSI, yaitu handset yang sudah diprogram untuk menjawab survei tertulis. LSI sendiri mengklaim survei tetap akurat, dan dapat dilakukan secera cepat.

Dalam survei quick poll LSI, responden dipilih secara random, baik yang memiliki handphone/telepon ataupun tidak. Setelah responden terpilih, ia diberikan 'handset LSI', sejenis handphone yang sudah diprogram khusus. Prinsip pemilihan acak atau random atas semua populasi responden diklaim terpenuhi dalam quick poll LSI.(MI/ICH)

http://www.metrotvnews.com

0 komentar:

Posting Komentar