Hebat! Orang Indonesia Jadi Profesor Termuda di AS

Jumat, 09 Maret 2012


Siapa sangka jika ada orang Indonesia yang memiliki otak gemilang. Ya, Nelson Tansu, demikian nama orang dimaksud. Dia merupakan profesor termuda di negeri Paman Sam, Amerika Serikat.


Luar biasanya, ketika menginjak usia 25 tahun, dia diangkat menjadi profesor di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.

Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena nama akhirnya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya 'pulang ke Jepang' untuk membangun Jepang. Tapi Profesor muda itu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila.

Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia. Ya, Nelson Tansu lahir di Medan, 20 Oktober 1977. Ia adalah lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Tansu Pernah menjadi finalis tim Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude.

Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku bahwa orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktoral. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Tesis Doktoral-nya mendapat penghargaan sebagai "The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award" yang mengalahkan 300 tesis doktorallainnya. Secara keseluruhan, ia telah menerima 11 penghargaan saintifik di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai jurnal internasional.

Saat ini ia adalah profesor tamu di 18 perguruan tinggi dan lembaga riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai acara internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia .

Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk 'pulang'. Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia.

Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika , ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia . Bukan apa-apa, harus diakui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu. (ary/int)

 http://www.108csr.com/home/news.php?id=8599

0 komentar:

Posting Komentar