Gateball, Olah Raga Rekreasi Unik tanpa Batas Umur dan Gender

Minggu, 04 Maret 2012


Gateball memang belum populer di Indonesia sekarang, padahal  olah raga ini cukup unik. Tidak perlu ketangguhan fisik luar biasa untuk menjadi pemainnya. Faktor usia juga bukan halangan buat bermain gateball sekalipun pada kompetisi skala nasional.

Jakarta- Lelaki berusia 56 tahun itu terlihat bersemangat ketika mondar mandir memberi instruksi penempatan bola kepada timnya.

Sebagai kapten, Marno sesekali  berteriak kepada Hartono, rekan sebayanya yang mendapat giliran memukul bola. Begitu pula ketika Ikhsan, anggota timnya yang masih berusia  15 tahun, berhasil menembakkan bolanya ke sasaran dari jarak jauh.

Meskipun tim yang dipimpin Marno, klub Chili Hut hanya mampu tampil pada babak penyisihan dalam turnamen terbuka gateball tingkat nasional di Serpong, Tangerang, Banten, hari Minggu tersebut, pria yang sebentar lagi  pensiun dari PNS itu nampak puas.

"Target kami bukan untuk menjadi juara karena ini kompetisi pertama yang kami ikuti. Kami baru mengenal gateball dua bulan dan klub kami Chili Hut didirikan pekan lalu," katanya.

Gateball memang belum populer di Indonesia sekarang, padahal  olah raga ini cukup unik. Tidak perlu ketangguhan fisik luar biasa untuk menjadi pemainnya. Faktor usia juga bukan halangan buat bermain gateball sekalipun pada kompetisi skala nasional.

Itu sebabnya seorang Marno bisa satu tim dengan Ikhsan yang pantas menjadi anak atau mungkin cucunya dalam kompetisi gateball nasional.

Bahkan gateball juga tidak mengenal perbedaan gender. Laki-laki atau perempuan bisa bermain dalam satu tim atau berlawanan tim dengan aturan sama, yang berlaku pula secara internasional.

Oleh karena itu, gateball sering disebut juga sebagai olah raga tanpa batas (barrier-free sport).  Kalau pun mau disebut sebagai syarat bermain gateball, yang ada mungkin cuma satu, yaitu sehat jasmani dan rohani.  

Mirip golf, peralatan utama gateball adalah stick (tongkat pemukul) terbuat dari bahan sejenis aluminium, dan bola. Bedanya, golf memasukkan bola ke dalam lobang, gateball meloloskan bola ke gawang kecil. 

Stick gateball berbentuk seperti palu, yang panjang pendek gagangnya bisa diatur sesuai selera pemain.  Bola gateball jauh lebih besar dibanding bola golf, lebih mirip bola biliar, terbuat dari bahan sejenis melamin yang tahan terhadap benturan keras.

Di lapangan segi empat berukuran 20 x 15 meter atau 25 x 20 meter, gateball biasanya dimainkan beregu beranggotakan lima orang. Dua regu yang berhadapan harus berlomba lebih dulu mengumpulkan angka terbanyak.

Caranya, setiap anggota harus menggolkan bolanya ke tiga gawang sebelum  menyelesaikan permainan lewat pukulan terakhir bolanya yang harus mengenai tiang/tonggak di tengah lapangan. Serunya permainan terlihat dari adu strategi untuk saling "menjegal" atau mencegah  lawan yang ingin meraih angka.

Jangan khawatir, tidak ada kontak fisik. "Penjegalan" hanya dilakukan terhadap bola lawan, dengan bola sendiri yang dipukul memakai  stick secara bergilir. Jadi kuncinya terletak pada penempatan bola di posisi-posisi  strategis tanpa harus menguras banyak tenaga. Durasi permainan hanya 30 menit, pemenangnya tentu tim yang terbanyak mengumpulkan angka.


Olah raga rekreasi

Di Indonesia, gateball dikelompokkan dalam kategori olah raga rekreasi dan bukan olah raga prestasi. Pembinaannya bukan oleh KONI, tetapi oleh FORMI (Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia).

Secara nasional, gateball memiliki wadah bernama Pergatsi (Persatuan Gateball Seluruh Indonesia) yang didirikan tahun lalu dengan ketua umum pertamanya Djoko Kirmanto yang juga menjabat menteri pekerjaan umum.

Di level internasional, olahraga ini di bawah naungan Perhimpunan Gateball Dunia (World Gateball Union/WGU) yang diketuai Jepang, tempat kelahiran gateball.

Menurut Wilkipedia, olah raga ini diciptakan di Hokaido Jepang oleh Suzuki Kazunobu tahun 1947. Kini gateball menyebar ke mancanegara, dan memiliki kalender kejuaraan dunia yang diselenggarakan empat tahun sekali setelah yang pertama berlangsung di tanah kelahirannya, Hokaido, tahun 1986.

Gateball masuk Indonesia pertama kali tahun 1995 lewat Bali, dibawa oleh turis Jepang. Tidak heran jika Bali saat ini jadi basis utama gateball di Indonesia. Klub gateball tumbuh subur di Bali sehingga tidak sulit mencari peralatan gateball di sana.

"Kami membeli peralatan di Bali karena di daerah lain, termasuk di Jakarta, masih langka. Kalau pun ada, harga di Bali jauh lebih murah,"  kata pendiri sekaligus pemilik klub Chili Hut, Puja Samedhi, yang merelakan halaman rumahnya di kawasan Pondok Cabe untuk aktivitas klubnya.

Dalam percakapan dengan ANTARA News, Ketua Umum Pengurus Besar Pergatsi Djoko Kirmanto menyatakan tekadnya untuk memasyarakatkan gateball ke seluruh penjuru tanah air.

Jika di negara asalnya kini gateball identik dengan olah raga orang lanjut usia (Lansia), Djoko  berharap di Indonesia akan digemari semua lapisan masyarakat sesuai namanya sebagai olah raga tanpa batas.

"Tentu itu tidak mudah karena gateball belum banyak dikenal orang. Tetapi saya akan member prioritas untuk datang jika ada undangan menghadiri acara gateball," katanya.
(H002/R009) 

 http://www.antaranews.com

0 komentar:

Posting Komentar