Menteri Inggris Lengser Gara-Gara Melanggar Lalu Lintas di Masa Lalu

Minggu, 05 Februari 2012


London -- Menteri Energi Inggris, Chris Huhne, memutuskan mundur dari jabatannya. Dua hal disebut-sebut menjadi pemicunya, yaitu tudingan pelanggaran hukum di masa lalu dan rongrongan mantan istri, ekonom Vicky Pryce, yang menyeretnya dalam putaran krisis politik dan pribadi.

Huhne dan Pryce dituduh memutarbalikkan keadilan dalam pelanggaran lalu lintas pada 2003. Demi alasan "menyelamatkan" karier suaminya saat itu, Pryce mengakui melakukan pelanggaran tersebut.

Dia menuturkan setelah dihentikan karena mengebut, Huhne memberi tahu polisi bahwa Pryce, yang ketika itu menjadi istrinya, berada di belakang kemudi sehingga ia terhindar dari pencabutan SIM. Pryce, menurut dakwaan itu, bersalah karena mengaku dialah yang mengemudi. Kejadian masa lalu itu ternyata kini heboh lagi. Terungkap bahwa Pryce tak menyetir.

Huhne menjadi orang ketiga dalam anggota kabinet Perdana Menteri David Cameron yang mengundurkan diri. Huhne adalah anggota senior Partai Liberal Demokrat Inggris.

Ia menyatakan dirinya tidak bersalah, dan akan membuktikannya di pengadilan pada 16 Februari. Pryce melalui pengacaranya menyatakan tak akan menyebut dirinya "bersih" atau bersalah. "Saya hanya ingin masalah ini segera selesai," katanya, yang kini mengaku lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Surat pengunduran diri Huhne kabarnya sudah diterima Cameron. Saat menerima surat pengunduran diri itu pimpinan Partai leberal Demokrat yang juga Wakil Perdana Menteri, Nick Clegg, menyatakan memahami keputusan yang diambil Huhne. "Saya berharap Anda bisa menyelesaikan masalah Anda secepatnya sehingga Anda bisa kembali memainkan peran penting dalam pemerintahan sesegera mungkin," katanya.
Clegg sebelumnya telah berbicara dengan Huhne pada Kamis malam dan Jumat pagi. Istri Clegg, Miriam, berbicara kepada Pryce untuk mengekspresikan kesedihannya dan menawarkan dukungannya.

Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Inggris seorang menteri kabinet didakwa dengan tindak pidana imprisonable di zaman modern. Kasus ini juga merupakan pukulan yang menghancurkan salah satu tokoh politik yang paling ulet, percaya diri, dan cukup untuk menantang mitra koalisinya dalam berbagai kebijakan.

0 komentar:

Posting Komentar