Zulkifli Syukur Mantan Tukang Cuci Piring yang Kini Jadi Idola

Jumat, 06 Januari 2012


Bandung - Sosoknya yang tangguh mengawal sisi pertahanan kanan timnas Indonesia menjadikan sosok Zulkifli Syukur menjadi idola dalam waktu sekejap.

Ya, pesepakbola kelahiran Makassar, 3 Mei 1984 ini adalah idola baru publik sepakbola tanah air. Kelincahannya menyisir sisi kanan hingga melakukan penetrasi ke jantung pertahanan lawan menjadi kelebihan yang dimiliki oleh mantan pemain Arema Indonesia tersebut.

Kilau Zulkifli semakin terang ketika turnamen Piala AFF 2010 digelar di Jakarta. Ia adalah pemain yang agresif dalam menyerang namun juga baik dalam bertahan. Zulkifli menjadi bintang ketika Indonesia berhadapan dengan Filipina di semifinal leg pertama Piala AFF. Ia menjadi penyelamat gawang Indonesia dengan menghalau tendangan James Younghusband di garis gawang. Zulkifli melakukan debutnya untuk timnas Indonesia November 2011 dalam laga uji coba melawan Timor Leste. Adalah sosok Alfred Riedl yang memiliki andil besar dalam karir Zulkifli hingga bisa seperti saat ini. Hingga kini, Zulkifli dinilai sebagai salah satu bek kanan terbaik yang dimiliki Indonesia.

Namun, siapa yang menyangka kalau masa lalu Zulkifli Syukur cukup berat. Sebelum menjadi idola seperti saat ini, ia pernah menjalani porfesi sebagai tukang parkir dan tukang cuci piring. Kehidupan ekonomi Zulkifli memang pas-pasan. Keadaan semakin parah ketika Ayah Zulkifli meninggal ketika duduk di bangku kelas 5 SD. Parahnya, Zulkifli juga harus kehilangan Ibunya yang pergi ke Papua untuk mencari pekerjaan. ZUl kecil dititipkan bersama tantenya di Makassar.

Hobi sepakbola Zulkifli mulai terlihat ketika dirinya duduk di bangku SMP. Ia ingin sekali memiliki sepatu bola. Namun ibunya tak memilik cukup uang untuk membelikannya sepatu. Tak mau menyerah, Zulkifli memutuskan untuk kerja sampingan sebagai tukang cuci piring dan tukang parkir. Semua ia lakukan demi mendapat uang tambahan agar bisa membeli sepatu sepakbola. Pekerjaan itu ia lakukan setelah jam pulang sekolah.

Setelah membeli sepatu, Zulkifli makin bersemangat bermain sepakbola. Dengan tekun, ia terus menimba ilmu mengolah si kulit bundar hingga akhirnya bisa seperti sekarang. Sejumlah klub pun ia bela mulai dari PSM Makassar, PKT Bontang, Arema Indonesia, hingga sekarang Persib Bandung.

Meski sudah menjadi pemain top di Indonesia, Zulkifli tetap rendah hati dan tak lupa kehidupannya dulu. Apa yang ia dapat saat ini pun sangat disyukuri. Dan untuk membeli sepasang sepatu sepakbola, Zulkifli tentu tak harus jadi tukang cuci piring atau tukang parkir lagi.

SUMBER

0 komentar:

Posting Komentar