Kembalian Receh Pakai Permen Itu Mencuri

Senin, 09 Januari 2012


JAKARTA - Pecahan mata uang Indonesia saat ini tergolong masih tergolong masih besar. Oleh karena itu, kembalian menggunakan uang kecil alias receh sudah ditinggalkan bahkan kebanyakan swalayan menggunakan permen untuk kembalian receh.

Ekonom Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan kembalian uang receh menggunakan permen adalah hal melanggar hukum dan bisa dikatakan itu adalah pencurian.

"Itu bisa diadukan ke polisi. Indonesia sistem pembayarannya rupiah, rupiah (uang receh) diwajibkan diterima di mana saja. Kalau ada yang tidak terima bisa diadukan ke polisi. Termasuk kembalian menggunakan permen itu," ungkap Yudhi ketika ditemui di Gedung Kemenko, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (9/1/2012).

Oleh karena itu, menurutnya bank sentral sampai sekarang harusnya tetap mengeluarkan uang receh karena itu adalah bentuk sah dalam pembayaran.

"Harusnya tetap dikeluarkan. Singapura, kecil dibalikin, itu kewajiban. Kalau di sini kan sempat dikasih permen segala macam. Itu mencuri," tegasnya.

Walaupun demikian dia mengaku rencana redenominasi yang dicanangkan BI dan pemerintah masih belum perlu saat ini. Bank sentral menurutnya yang paling penting adalah menjaga rupiah tersebut walaupun dalam bentuk receh.

"Kalau di Amerika dijamin 100 persen oleh bank sentralnya.  Bank sentral akan mengakui duit yang pernah diterbitkan dan tidak akan menariknya dalam keadaan apapun. Itu untuk menjaga kredibilitas dollar. Makanya saat dunia gonjang ganjing, orang orang pada ngambil dolar. Itu yang membuat Amerika survive sampai sekarang," tambahnya.

Redenominasi, sambungnya, hanya membodohi publik karena hanya akan membuat inflasi melambung karena kenaikan harga yang tinggi akibat efek psikologis yang diakibatkan redenominasi.

"Apa alasan BI melakukan itu. Karena Turki melakukan hal yang sama? Karena inflasi sudah stabil? Tau enggak Turki bagaimana inflasinya? Selama 10-15 tahun berturut-turut setiap tahun rata rata inflasinya 70 persen," jelasnya.

"Jadi Turki mata uangnya sebelum redenominasi sudah melemah 1.400 kali dalam wktu 10 tahun. Kita dari krisis sampai sekarang lima kali," tambahnya.

Lebih lanjut dia menanyakan apa sebenarnya yang membuat BI berniat melakukan redenominasi? Apakah karena jumlah uang yang besar menyulitkan sistem accounting mereka?

"Kalau mereka bilang menyulitkan sistem accounting sudah pakai canggih. Sekarang udah ada quad core," pungkasnya.

0 komentar:

Posting Komentar