Donatur Mulai Berbondong-Bondong Tinggalkan LSM Greenpeace

Senin, 09 Januari 2012


JAKARTA - LSM asing Greenpeace mulai ditinggalkan donaturnya di Indonesia. Para donator ini mengaku menyesal menyokong LSM yang bermarkas pusat di Belanda itu.

Salah seorang donatur Greenpeace, Nina Marlina mengaku sudah menjadi donatur Greenpeace sejak 2009 hingga Oktober 2011 lalu.

"Saya sudah keluar dari donatur Greenpeace. Saya baru tahu bahwa perjuangan Greenpeace tidak murni, tapi sarat kepentingan asing," keluh karyawan sebuah perusahaan kimia di Jakarta itu kepada wartawan, Senin (9/1/2012).

Nina yang memiliki member donasi Greenpeace dengan nomor ID 21067 ini menceritakan, awal menjadi donatur Greenpeace ketika mengunjungi pameran di Jakarta Convention Center (JCC). Greenpeace yang membuka stand di JCC membujuknya menjadi donatur.

"Saat itu Greenpeace membujuk saya menjadi donatur dengan alasan untuk menyelematkan lingkungan. Prosesnya, dengan cara pemotongan tabungan bank secara debit. Belakangan saya baru sadar, tiap bulan Greenpeace memotong rekening saya dari BCA Rp75.000. Saya menyesal. Lebih baik saya sumbangkan ke yatim piatu," tutur Nina.

Menjadi seorang donatur, Nina ternyata hanya memperoleh buletin bulanan dan laporan kegiatan Greenpeace. Dia sama sekali tidak pernah mendapatkan laporan keuangan. Hal inilah yang membuat Nina kesal dan meninggalkan Greenpeace.

“Greenpeace tidak transparan soal dana donatur. Tidak ada laporan pendanaan Greenpeace kepada donatur, kami hanya menerima buletin tiap bulan dan laporan kegiatannya saja,” katanya. Puncaknya, Nina langsung menutup tabungan rekening BCA miliknya.

Selain Nina, hal serupa diakui Bagus Adhitya Rama. Dalam surat pembacanya di salah satu surat kabar nasional, Jumat pekan lalu, Bagus mengeluhkan adanya autodebet sepihak yang dilakukan Greenpeace.

"Ini aneh, bagaimana mungkin Greenpeace bisa mendebet kartu kredit yang harusnya sudah ditutup? Petugas Citibank beralasan hal itu untuk keamanan," tuturnya kesal.

0 komentar:

Posting Komentar