Dianggap Kontroversial KPK Kucilkan Busyro?

Selasa, 03 Januari 2012


Jakarta:- Posisi Busyro Muqoddas sebagai pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi jilid III kini terkucilkan. Dalam pembagian peran pimpinan KPK, ia kini tak lagi dilibatkan dalam penindakan kasus korupsi.

"Keputusannya pimpinan, Pak Busyro membawahi pencegahan dan yang lainnya, tapi bukan penindakan," kata juru bicara KPK, Johan Budi S.P., di kantornya, Senin 2 Januari 2012. Busyro membidangi pencegahan bersama Bambang Widjojanto, Adnan Pandu Praja, dan Zulkarnain.


Berbeda dengan Busyro, anggota pimpinan KPK lainnya, seperti Bambang, Zulkarnain, dan Adnan, masih diserahi tugas bidang penindakan korupsi. Jabatan Busyro, kata Johan, hanya akan disandingkan dengan bidang lain, seperti pengawasan internal dan pengaduan masyarakat maupun informasi dan data.

Apa alasan penempatan Busyro di posisi itu, Johan menyatakan tidak tahu. Ia hanya menegaskan bahwa hal itu adalah keputusan KPK yang dipimpin Abraham Samad. "Jadi, saya tidak tahu pasti apa pertimbangannya," ujar dia.

Busyro lengser dari jabatan Ketua KPK setelah Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat memilih empat anggota pimpinan baru KPK pada 2 Desember lalu. Bekas Ketua Komisi Yudisial itu kalah telak dalam voting melawan Abraham Samad. Dia hanya didukung tiga suara. Pangkatnya pun turun menjadi wakil ketua.

Menjelang berlangsungnya voting tersebut, Busyro memang gencar mengumbar pernyataan yang menyudutkan politikus Senayan. Dalam sebuah pidato kebudayaan, dia menyebut kebanyakan politikus itu hedonistik dan tak memihak rakyat kecil. Pernyataan Busyro sempat dikritik Abraham ketika mereka sedang sama-sama menjalani uji kelayakan sebagai pemimpin KPK di DPR. Abraham menyebut pernyataan Busyro sama halnya pemain sinetron.

Johan menampik anggapan bahwa sikap kontroversial Busyro-lah yang membuat mantan Ketua KPK itu terdepak dari bidang penindakan. "Tidak begitu, tentu ada pertimbangan dari pimpinan."

Busyro dikenal sebagai sosok yang "lurus". Di bawah kepemimpinannya, akhirnya KPK berhasil membawa pulang Nunun Nurbaetie, tersangka kasus suap yang membuat Miranda Goeltom terpilih sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Padahal Nunun konon dilindungi oleh "orang kuat" yang berada di Indonesia maupun Thailand. Rupanya, tak semua orang mendukung langkahnya. Busyro maupun Abraham hingga berita ini diturunkan belum bisa dikonfirmasi. Telepon dan pesan singkat Tempo tak dibalas.

Namun, sebelumnya, Abraham menyatakan lima anggota pimpinan sepakat mengeroyok bersama tugas pencegahan dan penindakan. Kesepakatan itu diambil dalam rapat pimpinan yang berlangsung 23 Desember lalu. Alasannya, banyak kasus besar harus dituntaskan.

Adapun Busyro beberapa waktu lalu berulang kali mengatakan, dirinya siap membidangi apa saja di KPK. Ia pun menilai penting pencegahan melalui pengawasan yang ketat guna mengurangi potensi kerugian negara yang lebih besar.
 

0 komentar:

Posting Komentar