REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Bagaimana situasi dunia ketika mencapai tahun
2100? Salah satu ramalan terkini yang dirilis oleh Business Insider
mengungkapkan kondisinya akan jauh lebih masif dari saat ini. Berbagai
persoalan mulai dari jumlah penduduk, kekurangan bahan bakar dan bahan pangan
melanda dunia. Ramalan yang pesimistis? Tidak juga. Berikut beberapa ramalan
tersebut:
1. PBB telah
memprediksi jumlah penduduk dunia pada 2100 mencapai 10 miliar orang.
Saat ini, jumlah penduduk dunia mencapai tujuh miliar jiwa. Kondisi sekarang
menggambarkan dunia yang kekurangan bahan pangan, kemiskinan masih merajalaela,
kekurangan sumber daya alam, meningkatnya urbanisasi, dan perubahan cuaca.
Apakah dunia akan kocar-kacir pada 2100 ketika penduduknya sudah membengkak?
Bisa jadi, apalagi manusia sejauh ini hanya bergantung pada satu planet bumi
saja.
2. Pada 2100,
desa-desa di dunia secara bertahap akan menghilang. Sebagai gantinya muncul
kota-kota kelas menengah dan besar. Bahkan ada beberapa yang menjadi megapolitan.
Perpindahan penduduk dari desa ke kota menjadi hal lazim. Kota dengan jumlah
penduduk 20 juta jiwa akan menjadi sangat umum. Beberapa dari kota tersebut
sudah bisa dilacak sekarang, seperti: Beijing, New Delhi, Jakarta, Mexico City,
Mumbai, Sao Paolo, dan Shanghai.
3. Bahasa-bahasa
akan punah. Saat ini diprediksi ada sekitar 7.000 bahasa di seluruh dunia
yang digunakan. Namun pada 2100, jumlah bahasa akan berkurang pesat.
Kemungkinan bahasa yang bertahan hanya beberapa ratus. Bahasa Inggris bakal
tetap menjadi bahasapaling umum digunaka di seluruh dunia.
4. Jumlah penduduk
yang berusia uzur akan semakin banyak. Diperkirakan sekitar 22,3 persen
penduduk dunia akan berusia sekitar 65 tahun. Penghitungan ini melesat dari
prosentase sekarang yang hanya sebanyak 7,6 persen. Dengan demikian, beban kaum
muda untuk tetap menampung kaum tua semakin besar.
5. Afrika kini
kurang diperhitungkan. Tapi kondisi itu berubah pada 2100. Diperkirakan, salah
satu kunci pertumbuhan penduduk datang dari benua hitam itu. Populasi penduduk
Afrika yang tahun lalu hanya satu miliar jiwa akan menjadi 3,6 miliar jiwa.
Hitung-hitungan kasarnya, bakal ada satu orang AFrika bagi setiap lima orang
Eropa. Sementara jumlah penduduk di kawasan lain bakal melambat. Misalnya
Amerika Serikat yang sekarang berjumlah 311 juta jiwa penduduk, pada 2100
berjumlah 478 juta jiwa.
6. Batas
rerata umur manusia di dunia sekarang sekitar 68 tahun. Pada
2100, batasan umur itu akan bertambah menjadi 81 tahun. Ini berarti makin
banyak orang berumur uzur. Laporan PBB tidak menyebutkan secara rincin
bagaimana manusia 2100 bisa mempertahankan hidupnyaa, apakan melalui rekayasa
genetik, pengobatan nano, maupun peningkatan kecerdasar secara eksponensial.
Begitupun laporan itu tidak menyantumkan risiko-risiko kependudukan seperti
pandemik penyakit atau malah serbuan alien.
7. Rawan
pangan. Sebenarnya kondisi dunia sekarang sudah rawan pangan.
Para pakar menyalahkannya pada pemanasan global. Sekarang ada sekitar 925 juta
jiwa yang menderita kelaparan. Peningkatan jumlah penduduk, logikanya, akan
menambah jumlah penduduk yang kelaparan. Di sisi lain, makin panasnya suhu bumi
bisa membuat masa tanam makin pendek di daerah tropis dan sub tropis. Ini
membuat risiko gagal panen makin kencang, apalagi menyangkut padi dan jagung.
Diprediksi akan ada penyusutan 20-40 persen dari panen padi dan jagung itu.
Artinya, ratusan juta penduduk dunia harus mulai mendiversifikasi pangan
mereka. Tak lagin mengandalkan pangan tradisional.
8. Terumbu
karang dan ekosistemnya bakal rusak. Dengan level karbon
dioksida yang tinggi di 2100, sekitar 560 parts per juta, ini akan menjadi
bencana bagi terumbu karang. Diperkirakan sebanyak 9.000 habitat terumbu karang
punah. Terumbu karang bukanlah sekadar penghias laut. Ia menjadi
penyokong penting kehidupan laut, karena menjadi rumah bagi ribuan ikan dan
memasok makanan. Dunia pada 2100 akan menjadi pertaruhan adaptasi terumbu
karang.
9. Bahan bakar minyak, gas, dan batu bara
diprediksi bakal hilang. Gara-gara kerakusan manusia mengkonsumsi bahan bakar
tersebut saat ini. Beberapa pakar sudah memperhitungkan, BBM akan menghilang
mulai 2040. Sementara BBG, jumlah produksinya secara cepat akan berkurang.
Manusia, pada 2100 memanfaatkan tenaga
air dan tenaga yang diperbarukan seperti angin dan matahari. Tiga tenaga
ini bakal jadi penopang utama energi dunia.
10. Mobilitas
penduduk akan semakin tinggi. Di sejumlah negara yang homogen
sekarang, seperti Cina dan Jepang, kondisinya akan berubah pada 2100.
Globalisasi berarti makin banyak dan cepat perpindahan penduduk termasuk skill
kerja mereka ke luar negeri. Kita akan melihat banyak bule asal AS yang mencari
nafkah di Asia, dan Eropa akan menjadi melting pot penduduk yang lebih masif
lagi dari sekarang.
11. Sinyal berbahaya bagi ledakan penduduk.
Laporan PBB memprediksi jumlah penduduk dunia mencapai 10 miliar jiwa pada
2100. Laporan ini punya dua alternatif skenario, akan ada maksimal sebanyak 15,8 miliar penduduk dunia atau
hanya akan ada 6,2 miliar penduduk. Angka yang terakhir, menjadi pilihan paling
memungkinkan. Sementara angka yang pertama adalah tanda bahaya bagi planet
bumi. Negara-negara butuh pengaturan ledakan penduduk yang komprehensif dan
drastis bila ingin selamat. Penduduk 10 miliar jiwa, itu berarti bahaya besar.


0 komentar:
Poskan Komentar